|
|
Pentingnya pendidikan untuk kemajuan bangsa dannegara telah menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia akhir-akhir ini.Sebagaimana disadari bahwa pendidikan dapat memperbaiki kualitas sumber dayamanusia dan merupakan investasi masa depan. Pemerintah dalam hal ini KementerianPendidikan Nasional sebagai pengendali pendidikan nasional terus berupayamembuat kebijakan-kebijakan agar kualitas pendidikan semakin lebih baiksehingga memiliki daya saing dilevel internasional dan mampu menjawab tantanganglobal. Pangkal tolak perbaikan kualitas pendidikan ini adalah pengembangansekolah sebagai landasan primer institusi pendidikan. Oleh karenanya sejakbeberapa tahun yang lalu pemerintah secara intensif mengembangkan sebuahprogram yang dikenal dengan istilah Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
SBI juga merupakan salah satu upaya dari pemerintah untuk memenuhi UU No.20 Tahun 2003 Pasal 50 Ayat 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yangmengharuskan Pemerintah dan/atau Pemda menyelenggarakan pada semua jenjangsekurang-kurangnya satu satuan pendidikan yang bertaraf internasional[1]. Hal ini dipertegasoleh PP No 19 Tahun 2005 Pasal 61 Ayat1, berupa keharusan bagi Pemerintah pusat bersama-sama dengan Pemdauntuk mengembangkan SBI sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada setiapjenjang pendidikan yakni SD, SMP, SMA maupun SMK.
Apabilamemperhatikan tujuan penyelenggaraan pendidikan SMK dan SMA tentunya konseppengembangan SBI untuk kedua sekolah tersebut berbeda meskipun levelnyasederajat. Dalam UU No. 20/2003 dinyatakan pendidikan SMAbertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlakmulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebihlanjut. Sedangkan pendidikan SMK bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan,pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiridan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
SMK sebagaibagian dari pendidikan kejuruan pada hakikatnya merupakan subsistem dari sistempendidikan yang secara khusus membantu siswa dalam persiapan memasuki duniakerja. Pada taraf ini berdasarkan Surat Keputusan Direktur Pembinaan SMK tahun2009 telah dikembangkan di seluruh Indonesia 247 SMK sebagai Rintisan SekolahBertaraf Internasional (RSBI)[2]. Sudah seharusnya kehadiran SMK Bertaraf Internasional mampu meningkatkan daya saing siswa dan memperbaikicitra SMK dilevel nasional maupun internasional. Namun disamping itu, banyaknyaSMK berlabel internasional ini memunculkan berbagai pertanyaan, sepertibagaimanakah konsep SBI untuk SMK, apa yang membedakan SBI dengan sekolah biasadipandang dari kurikulum, tuntutan terhadap siswa, guru, dll., apakah sekolahdan sumber daya guru siap menyelenggarakan SMK Bertaraf Internasional, apakahbenar-benar SMK Bertaraf Internasional telah memenuhi standar Internasional,mampukah lulusan SMK Bertaraf Internasional bersaing di tingkat internasionaldan lain-lain. Oleh karena itu perlu kiranya penelitian ini dilakukan gunamenganalisa dan mencari jawaban atas permasalahan tersebut.
Permasalahan
Munculnya SBI merupakan fenomenayang ditanggapi beragam oleh banyak kalangan baik pakar pendidikan maupun nonpendidikan. Namun terlepas dari pro dan kontra yang muncul dimasyarakat perlumenjadi perhatian bahwa SBI adalah alat untuk mencapai kualitas pendidikannasional yang minimal setaraf dengan pendidikan-pendidikan di negara majulainnya sehingga daya saing pendidikan Indonesia dimata dunia meningkat. Untukmewujudkan SBI sebagaimana yang diharapkan bukanlah hal yang mudah, karenamasih banyak permasalah yang perlu dikaji secara cermat. Permasalahan tersebut diantaranya:
1. Konsep SBI bagi kebanyakan orang belumdipahami dengan jelas
Sejak dikeluarkannya kebijakan SBI,pemerintah menuai pujian dan juga kritikan, baik itu pujian bahwa kebijakan SBImerupakan langkah maju untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia, maupunkritikan bahwa konsep ini tidak didahului dengan studi secara mendalam.Kriteria dan indikator sebuah sekolah yang memiliki taraf internasional masihkabur. Konsep yang jelas dan benar-benar teruji serta pemahaman akan konseptersebut sangat diperlukan terutama guna penyelenggaraan di lapangan.
2. Strategi yang digunakan untuk mengembangkan SBI belummaksimal
Pengembangan SBI berhubungan erat dengan perspektifglobal untuk membangun sekolah-sekolah berkinerja tinggi. Perspektif inimenekankan perlunya transformasi sekolah nasional menuju SBI dengankarakteristik otonomi yang lebih luas, kapasitas inovatif, kinerja berkualitas,dan orientasi nilai (Surya Dharma, 2007). Adanya strategi yang tepat akan mampumempercepat pengembangan sekolah menjadi SBI sesuai yang diharapkan.
3. Kurikulum Standar Nasional Pendidikanditambah kurikulum dari negara maju kurang jelas
Dalam kurikulum SBI ada rumusan StandarNasional Pendidikan ditambah atau diperkaya/dikembangkan/diperluas/diperdalamdengan standar internasional dari salah satu anggota OECD atau lembagates/sertifikasi internsional. Konsep tersebut tidak memiliki arah dan tujuanyang jelas. Sebab tidak menjelaskan lembaga/negara tertentu yang harus diadaptasi/diadopsistandarnya, dan faktor apa saja yang harusditambah/diperkaya/dikembangkan/diperluas/diperdalam, serta bagaimana penjaminanterhadap kesetaraan kurikulum yang digunakan .
4. Pemahaman konsep daya sainginternasional perlu diperjelas
Visi Sekolah Bertaraf Internasionaladalah terwujudnya Insan Indonesia yang cerdas dan memiliki daya saing secarainternasional. Visi ini mengisyaratkan secara tidak langsung gambaran tujuanpendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah model SBI, yaitu mewujudkan insanIndonesia yang cerdas dan memiliki daya saing secara internasional. Namun dayasaing internasional ini masih kabur dan pelu diperjelas.
5. Sekolah belumsepenuhnya siap menyelenggarakan SBI
Ini tampak dari munculnya berbagai problem manajementatkala kecepatan sekolah-sekolah dalam melakukan perubahan (mengadopsi silabuspembelajaran dan penilaian asing) masih belum diimbangi dengan upaya yangsistematis untuk memperkuat dan meningkatkan mutu sumber daya kependidikan(kepala sekolah, guru, dan manajemen), membangun sistem kontrol danakuntabilitas atas seluruh kegiatan akademis dan administrasi keuangan sekolah.Sebagaimana dikatakan Ali Saukah (2009)[3] karena banyaknya SBI untuk satu jenjang pendidikan disatu kota, maka sumber daya guru yang memiliki kompetensi bahasa Inggris denganbaik tidak mencukupi dan siswa pun belum seluruhnya mampumengikuti pelajaran dalam bahasa Inggris untuk Matematika dan Ilmu PengetahuanAlam bahkan ada SBI yang belum memenuhi kriteria standar nasional.
-*-
[1] Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasional
[2] Keputusan tentang Penetapan SMK RSBI tahun2009 di http://www.ditpsmk.net/
[3] Dimuat dalam Kompas-online, MutuPendidikan: Cukup Satu Sekolah Bertaraf Internasional di Setiap Kota, Kompas,Senin, 23 November 2009
Categories: Pendidikan
The words you entered did not match the given text. Please try again.


Oops!
Oops, you forgot something.